Archive for Cerita Tentang Keluarga dan Persahabatan

Maafkan Aku… (Cerpen)

Namaku Ika. Aku punya sahabat, namanya Mira. Aku marah pada Mira. Dia sangat sengaja, memusuhiku… Seperti menjauhiku. Dia lebih dekat dengan Lisa, Anak baru yang selalu membuat masalah. Semenjak kedatangannya, seisi kelas berubah drastis. Tak ada lagi rasa harmonis, yang ada hanyalah perpecahbelahan. Lisa dengan gengnya, Lilia, Dita, dan, Mira. Mereka berempat selalu membuat masalah.

Suatu hari, Justin, si ketua kelas berkata, “Lisa, Mira, Lilia, & Dita tidak tahu diri. Mereka seenaknya saja meminta jawaban ulangan biologi dari Albert. Aku Salut sama kamu, Ika. Bisa membedakan mana yang baik, mana yang jahat.” Justin berkata. Oya, Albert adalah seorang Genius di kelas kita. Nilainya selalu paling tinggi. Kadang-kadang, nilaiku melebihi nilainya. Tetapi, tetap saja, nilainya-lah yang terbaik.

Seminggu kemudian, datang Michelle. Dia sahabatku dulu, waktu masih SD. Michelle selalu menemaniku. Dia tidak pernah terpengaruh hasutan Lisa dan dedengkotnya. Memang, muka Lisa patut disejajarkan dengan artis luar negeri, seperti Miranda Cosgrove, Pink, atau Demi Lovato. Tetapi, kelakuannya patut disejajarkan dengan artis di channel “Animal Planet”, tepatnya artis yang bergelantungan di pohon dan makan pisang.

Sesekali, aku dan Michelle melihat mereka mengambil gorengan diam-diam di kantin tanpa membayar. Aku dan Michelle sering pula melaporkan itu kepada Mang Ipul, penjual gorengan.

Aku sudah tidak tahan dengan kelakuan Mira. Ingin rasanya memarahinya, tetapi ada sesuatu yang menahan. Aku tak kuasa berkata padanya. Hingga sebulan kemudian, aku sangat tidak tahan. Spontan kutampar pipi Mira, tanpa peduli apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Kamu sungguh sudah keterlaluan. Aku tak bisa memaafkanmu. Sudah cukup. Mulai sekarang, tak usah ajak aku bicara lagi. AKU CAPEK. CAPEEK !!!” Tak terasa, Airmataku mengalir. Michelle menarikku menjauh. Aku diam saja. Tak lama kemudian, Mira menghampiriku, Ia berkata pelan, “Maafkan Aku. Aku tahu aku salah. Sangat salah. Aku sudah berkhianat…” Mira menangis.

“SUDAH TERLAMBAT. TIDAK ADA KATA MAAF UNTUKMU. SELAMANYA. SELAMANYA !!!!!” Ika Berteriak, sangat keras.

“IKAAAAA !!!!!!!!!!!!!!!!”

Ayah… (Cerbung)

Siang itu, Gina tampak lesu. Ia malas pulang ke rumah. Ia bahkan tidak memperhatikan guru pada saat pelajaran tadi. Gina, yang bisaanya diantar jemput oleh supir Ayahnya, kini berjalan lesu dan sendirian. Tadi pagi, Gina sudah bicara ke Pak Ujang, supir Ayahnya itu, agar tidak menjemput Gina sepulang sekolah. Ia tidak takut oleh penculik dan semacamnya. Gina memang anak yang pemberani. Ia juga mahir dalam bermain pedang Samurai.

Setelah Ia berjalan cukup lama, ia memutuskan untuk pergi ke minimarket dan membeli Jus Jeruk dingin. Siang ini panas sekali. Sudah berkali-kali Ia menyeka dahinya karena banjir keringat.

Setelah Ia membeli Jus itu,  Ia mengurungkan niatnya untuk langsung meminumnya. Ia memutuskan untuk berlari sekencang mungkin ke rumahnya.  Tak peduli dengan ramainya trotoar di Fukouka.  Ia memang sudah lama tinggal di Jepang, meninggalkan negara tercinta, Indonesia.

Gina sekolah di “International School Sakura Blooms”, dan sekarang ia sudah bersekolah selama 7 tahun di sana. Ia betah disana. Tidak ingin pindah, meski ke Paris, kota impian orang-orang kebanyakan.

Sebenarnya, alasan Ia malas pulang ke rumah adalah ; Ayahnya tidak di rumah. Ayahnya sedang ada tugas duta besar di Belanda. Ia takut Ayahnya menjadi seperti Ibunya, meninggal ketika Dinas ke Paris. pesawatnya kecelakaan & Ibunya ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa. Gina menangis dan tak ingin pergi ke sekolah. Setelah berhari-hari, Ia terus menangis dan menangis. Tapi, sahabatnya yang bernama Ayaka mengatakan, “Your Mom can’t be back. Don’t cry. if you cry, your mom will cry too. I think  Kiyashi-kun, Ayumi-san, Koniyama-san, and all our friends, will be mad at you if you don’t come back to school. Oyasuminasai (Selamat Beristirahat). Arigato Gozaimasu for the time.  I’ll wait you tomorrow in school,” begitulah, akhirnya, Gina sadar bahwa menangis takkan memperbaik keadaan. Ia memutuskan untuk kembali bersekolah keesokan harinya.

Sesampainya di rumah, Gina sangat kesal. Ia ingin segera melampiaskan amarahnya. Kalau begini, paling enak membanting pintu sampai engselnya patah. tetapi, Ia tahu, Reika, butler-nya, mudah kaget, sehingga, apabila Ia melakuakan itu, Reika akan koma selama 100 tahun. Demi melampiaskan amarahnya yang meluap-luap, Ia mengambil batu besar, lalu melemparkannya diatas kasurnya berkali-kali. Meski kurang puas, paling tidak Ia tidak membuat orang lain kesal.

“Makan dulu, ya, Nyonya muda. Nanti sakit. Tuan sudah beli pizza sosis kesukaan Nyonya,” Reika berkata lembut.

Mendengar nama Ayahnya disebut, Gina langsung membuka pintu kamarnya, berlari menuju ruang makan. Ia meliahat pizza sosis jumbo terhidang di atas meja makannya yang sangat panjang. Ia mecomot satu. Reika yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.

“Rei mau satu ?” Gina menyodorkan satu slice pizza sosisnya.

“Tidak, terima kasih, nyonya muda. Saya tidak pantas memakan makanan Nyonya.” Reika Menolak.

Tetapi, 10 menit kamudian, Reika memakan 1 slice. Dengan sedikit paksaan dari Gina, tentunya. Reika sangat senang. Meski Ia hanya orang rendahan yang menjadi pelayan, tetapi Ia senang memiliki majikan yang sangat baik. Ia juga senang, menjadi tahu, apa itu keluarga. dulu, dia dibuang oleh ibunya di dekat rumah Gina. Ia menangis, umurnya waktu itu masih 4 tahun. Gina yang menemukannya. Umur Gina juga baru 3 tahun. Gina baru bisa berjalan. Ayahnya juga sedang mengawasinya bermain di halaman rumah. tiba-tiba, mereka mendengar tangisan seorang anak. Dia menemukan Reika. Akhirnya, Reika disekolahkan. Dia bersekolah di sekolah khusus, Indonesia’s Sakura Sakura School For Butler. Dia lulus pada saat dia berumur 8 tahun. Sejak itu, Dia menjadi Butler Gina.  Reika tidak pernah mengeluh, meski kadang Gina keras kepala. Reika-lah yang membuat Gina menjadi murid teladan. Reika mengajari Gina, bagaimana caranya menjadi anak yang anggun, bak putri raja. Reika yang menemukan, bagaimana caranya mengikat & menata rambut Gina agar dapat membingkai wajahnya & menonjolkan matanya yang bulat & indah. Reikalah yang mencari teman curhat Gina, tentang semuanya. Tentang orang yang dia sukai, ternyata menyukainya. Tentang temannya, yang kadang suka mengusilinya. Dan tentang apa saja. Reika bisa dipercaya, dia sangat jujur & bisa menutup mulut apabila diberi tahu rahasia. Dia sangat setia. Gina sangaaa……………………….ttt…… bangga atas Reika.

“Rei, kamu mau ini? ” Gina menyodorkan kotak cokelat kepada Reika. Isinya cokelat-cokelat lezat dari seluruh negara di dunia. Reika sungguh terharu. Tenpa terasa, ia meneteskan air mata. “Rei, kenapa menangis? ” Gina bertanya pada Reika. “Tidak, Rei hanya kelilipan. Cokelatnya…. maaf, Nyonya….” Ucapan Reika terpotong. “Kumohon, Rei. Panggil aku Gina. Bukan Nyonya muda. Gina saja.” Gina berkata sambil tersenyum. Rei Tersenyum, lalu Ia berkata, “Gin, Rei mohon, jangan Gina beri lagi Rei cokelat…. Rei tak pantas menerimanya…” Rei Terharu.

Gina sakit melihat Rei sedih. “Maafkan aku, Rei. Kumohon, jangan menangis…”

“Ayah pulang !” Terdengar suara hangat dari ruang tamu. “Ayah !” Gina memeluk Ayah.

“Ayah hanya mengetes kamu. Seberapa kamu tabah ditinggal Ayah. Ternyata, kamu itu nggak sabar. Kamu harus lebih banyak belajar,” Ayah menjelaskan.

Sejak itu, Gina bertekad untuk selalu bersabar & tidak akan lagi marah-marah hanya karena ayahnya dinas ke luar negeri.

-Tamat-

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.