Ayah… (Cerbung)

Siang itu, Gina tampak lesu. Ia malas pulang ke rumah. Ia bahkan tidak memperhatikan guru pada saat pelajaran tadi. Gina, yang bisaanya diantar jemput oleh supir Ayahnya, kini berjalan lesu dan sendirian. Tadi pagi, Gina sudah bicara ke Pak Ujang, supir Ayahnya itu, agar tidak menjemput Gina sepulang sekolah. Ia tidak takut oleh penculik dan semacamnya. Gina memang anak yang pemberani. Ia juga mahir dalam bermain pedang Samurai.

Setelah Ia berjalan cukup lama, ia memutuskan untuk pergi ke minimarket dan membeli Jus Jeruk dingin. Siang ini panas sekali. Sudah berkali-kali Ia menyeka dahinya karena banjir keringat.

Setelah Ia membeli Jus itu,  Ia mengurungkan niatnya untuk langsung meminumnya. Ia memutuskan untuk berlari sekencang mungkin ke rumahnya.  Tak peduli dengan ramainya trotoar di Fukouka.  Ia memang sudah lama tinggal di Jepang, meninggalkan negara tercinta, Indonesia.

Gina sekolah di “International School Sakura Blooms”, dan sekarang ia sudah bersekolah selama 7 tahun di sana. Ia betah disana. Tidak ingin pindah, meski ke Paris, kota impian orang-orang kebanyakan.

Sebenarnya, alasan Ia malas pulang ke rumah adalah ; Ayahnya tidak di rumah. Ayahnya sedang ada tugas duta besar di Belanda. Ia takut Ayahnya menjadi seperti Ibunya, meninggal ketika Dinas ke Paris. pesawatnya kecelakaan & Ibunya ditemukan sudah dalam keadaan tak bernyawa. Gina menangis dan tak ingin pergi ke sekolah. Setelah berhari-hari, Ia terus menangis dan menangis. Tapi, sahabatnya yang bernama Ayaka mengatakan, “Your Mom can’t be back. Don’t cry. if you cry, your mom will cry too. I think  Kiyashi-kun, Ayumi-san, Koniyama-san, and all our friends, will be mad at you if you don’t come back to school. Oyasuminasai (Selamat Beristirahat). Arigato Gozaimasu for the time.  I’ll wait you tomorrow in school,” begitulah, akhirnya, Gina sadar bahwa menangis takkan memperbaik keadaan. Ia memutuskan untuk kembali bersekolah keesokan harinya.

Sesampainya di rumah, Gina sangat kesal. Ia ingin segera melampiaskan amarahnya. Kalau begini, paling enak membanting pintu sampai engselnya patah. tetapi, Ia tahu, Reika, butler-nya, mudah kaget, sehingga, apabila Ia melakuakan itu, Reika akan koma selama 100 tahun. Demi melampiaskan amarahnya yang meluap-luap, Ia mengambil batu besar, lalu melemparkannya diatas kasurnya berkali-kali. Meski kurang puas, paling tidak Ia tidak membuat orang lain kesal.

“Makan dulu, ya, Nyonya muda. Nanti sakit. Tuan sudah beli pizza sosis kesukaan Nyonya,” Reika berkata lembut.

Mendengar nama Ayahnya disebut, Gina langsung membuka pintu kamarnya, berlari menuju ruang makan. Ia meliahat pizza sosis jumbo terhidang di atas meja makannya yang sangat panjang. Ia mecomot satu. Reika yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala.

“Rei mau satu ?” Gina menyodorkan satu slice pizza sosisnya.

“Tidak, terima kasih, nyonya muda. Saya tidak pantas memakan makanan Nyonya.” Reika Menolak.

Tetapi, 10 menit kamudian, Reika memakan 1 slice. Dengan sedikit paksaan dari Gina, tentunya. Reika sangat senang. Meski Ia hanya orang rendahan yang menjadi pelayan, tetapi Ia senang memiliki majikan yang sangat baik. Ia juga senang, menjadi tahu, apa itu keluarga. dulu, dia dibuang oleh ibunya di dekat rumah Gina. Ia menangis, umurnya waktu itu masih 4 tahun. Gina yang menemukannya. Umur Gina juga baru 3 tahun. Gina baru bisa berjalan. Ayahnya juga sedang mengawasinya bermain di halaman rumah. tiba-tiba, mereka mendengar tangisan seorang anak. Dia menemukan Reika. Akhirnya, Reika disekolahkan. Dia bersekolah di sekolah khusus, Indonesia’s Sakura Sakura School For Butler. Dia lulus pada saat dia berumur 8 tahun. Sejak itu, Dia menjadi Butler Gina.  Reika tidak pernah mengeluh, meski kadang Gina keras kepala. Reika-lah yang membuat Gina menjadi murid teladan. Reika mengajari Gina, bagaimana caranya menjadi anak yang anggun, bak putri raja. Reika yang menemukan, bagaimana caranya mengikat & menata rambut Gina agar dapat membingkai wajahnya & menonjolkan matanya yang bulat & indah. Reikalah yang mencari teman curhat Gina, tentang semuanya. Tentang orang yang dia sukai, ternyata menyukainya. Tentang temannya, yang kadang suka mengusilinya. Dan tentang apa saja. Reika bisa dipercaya, dia sangat jujur & bisa menutup mulut apabila diberi tahu rahasia. Dia sangat setia. Gina sangaaa……………………….ttt…… bangga atas Reika.

“Rei, kamu mau ini? ” Gina menyodorkan kotak cokelat kepada Reika. Isinya cokelat-cokelat lezat dari seluruh negara di dunia. Reika sungguh terharu. Tenpa terasa, ia meneteskan air mata. “Rei, kenapa menangis? ” Gina bertanya pada Reika. “Tidak, Rei hanya kelilipan. Cokelatnya…. maaf, Nyonya….” Ucapan Reika terpotong. “Kumohon, Rei. Panggil aku Gina. Bukan Nyonya muda. Gina saja.” Gina berkata sambil tersenyum. Rei Tersenyum, lalu Ia berkata, “Gin, Rei mohon, jangan Gina beri lagi Rei cokelat…. Rei tak pantas menerimanya…” Rei Terharu.

Gina sakit melihat Rei sedih. “Maafkan aku, Rei. Kumohon, jangan menangis…”

“Ayah pulang !” Terdengar suara hangat dari ruang tamu. “Ayah !” Gina memeluk Ayah.

“Ayah hanya mengetes kamu. Seberapa kamu tabah ditinggal Ayah. Ternyata, kamu itu nggak sabar. Kamu harus lebih banyak belajar,” Ayah menjelaskan.

Sejak itu, Gina bertekad untuk selalu bersabar & tidak akan lagi marah-marah hanya karena ayahnya dinas ke luar negeri.

-Tamat-

Advertisements

2 Comments »

  1. sholeh Said:

    keren…


{ RSS feed for comments on this post}

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: